Post

Pemenang Kategori Negeriku Indonesia (Dokumenter)

Blog Single

Pemenang Kategori Negeriku Indonesia (Dokumenter)

1. BARONG LANDUNG

20150308_102719_thumb_barong_landungKerajaan dalam Balingkang terkenal pada jamannya akan kekayaan hasil buminya hingga daratan Tiongkok. Hal inilah yang membuat saudagar asal Tiongkok menjalin hubungan dagang dengan kerajaan Dalem Balingkang yang ketika itu dipimpin oleh Jayapangus. Ternyata tidak hanya hubungan dagang, bahkan sang raja pun saling jatuh cinta dengan putri saudagar asal Cina bernama Kang Ching Wie. Akan tetapi hubungan asmara ini tidak direstui oleh permaisuri raja (Dewi Danu), yang akhirnya mengutuk Jayapangus dan Kang Cheng Wie menjadi sebuah batu yang berbentuk BARONG LANDUNG.

Pada masa pemerintahan Jayapangus ini, sangat makmur dan sejahtera. Oleh karena itu hingga kini replika dari kutukan permaisuri yang berbentuk BARONG LANDUNG tersebut sangat dihormati oleh sebagian besarmasyarakat di Bali.

2. JEJAK KAIN BALI

20150310_052551_thumb_jejak_kain_bali1Kain memiliki tempat yang istimewa dalam kehidupan sosial masyarakat Bali. Di dalam keyakinann masyarakat Bali yang berlandaskan Agama Hindu. Kain juga digunakan sebagai sarana Upacara.

Manusia Bali ketika terlahir di dunia hingga meninggal dunia selalu lekat dengan kain. Seperti kain Bali, kain Endek, kain Songket, kain Prada, dan kain Gringsing.

Kain dibuat tidak hanya digunakan sebagai alat untuk melindungi tubuh si pemakainya dari panas dan hujan, tetapi juga digunakan sebagai alat untuk menunjukan kedudukan sosial seseorang di dalam masyarakat. Dan sampai saat ini masih ada beberapa desa di Bali yang memproduksi kain secara Tradisional, seperti Desa Tenganan dan Desa Seraya di Karangasem.

3. HARAPAN DARI TANAH LELUHUR

20150308_104534_thumb_Harapan_di_Tanah_LeluhurKampung Hukaea Laea terletak sekitar 35 kilometer dari Kasipute, Ibukota Kabupaten Bombana. Daerah ini, berada di atas Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW). Untuk mencapai daerah ini, harus melewati padang savana yang luas. Akses masuknya bisa menggunakan mobil atau motor. Namun pengemudinya harus berhati-hati sebab jalur yang dilalui merupakan daerah terlarang untuk beraktivitas yakni lahan konservasi. Secara administrasi, Hukaea Laea saat ini masuk wilayah Dusun 3, Desa Watu Watu, Kecamatan Lantari Jaya.

Hukaea Laea merupakan perkampungan tua (disebut Tobu dalam bahasa Moronene). Nama Hukaea Laea diambil berdasarkan kondisi alam yang ada. Pemberian nama ini dilakukan ketika orang Moronene berpindah tempat tinggal dan berladang dari sungai Pampaea dan Raromponda (kemudian bernama Lampopala), ke Wukulano (tulang daun agel), daerah yang sekarang masuk dalam klaim Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai. Saat pindah di Wukulano karena gangguan nyamuk di Raromponda, penduduk asli Moronene menemukan pohon melinjo besar yang tumbuh di lahan barunya. Dari penemuan itu, perkampungan mereka yang baru ini lalu diberi nama Hukaea (pohon melinjo besar). Sedangkan Laea, sungai besar yang berada di sepanjang perkampungan itu.

Selama berada di Hukaea Laea, orang Moronene berladang dan berkebun di sekitar hulu sungai Laea. Alasannya, kata Mansur Lababa, tanah di sekitar itu sangat subur. Tanaman ladang yang mereka tanam diantarnya jagung, padi dan sayuran. Sedangkan jenis tanaman kebunnya seperti mangga, nangka, dan kelapa. Bahkan dari beberapa tanaman kebun itu, masih dijumpai sampai saat ini di Hukaea Laea. Seiring dengan terbentuk dan berkembangnya sejumlah tobu di sepanjang sungai Laea, maka pemerintahan Distrik Rumbia dibawah pemerintahan Munara (ayah I Pimpie, kepala Distrik Rumbia terakhir), mengukuhkan mokole Hukaea sebagai distrik Rumbia yang berkedudukan di Hukaea.

Penetapan Hutan dan Desa Hukaea Laea menjadi Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai juga mengakibatkan masyarakat di daerah tersebut tertekan dan bahkan banyak diantaranya terusir dari desa karena konflik dengan pemerintahan Provinsi. Lokasi Desa yang kini berada dalam kawasan Taman Nasional membuat desa Hukaea Laea menjadi tertinggal karena tidak adanya jalan masuk, listrik, sarana kesehatan dan sarana pendidikan. Kini masyarakat desa Hukaea Laea harus bertahan hidup dengan mengandalkan pengetahuan yang diwariskan leluhur mereka karena tidak adanya fasilitas yang dibangun Pemerintah Daerah.