Post

Meng-Kloning SDM Unggul

Blog Single

~ Catatan Untuk Arif Budiman, Kameraman TVRI Bali

Dalam tahun-tahun terakhir produksi program lomba karya terbaik Gatra kencana, khususnya ber-genre feature dokumenter seolah memiliki tren yang sama. Tren dalam mengemas bahasa visual yang sama, sebagian besar karya terbaik terkesan seragam. Dalam perbincangan ringan penulis dengan beberapa pelaku produksi menyepakati, karya terbaik yang masuk nominasi gatra, sebagian besar diantaranya yang menggunakan DSLR melakukan teknis pengambilan gambar yang sama. Angle kamera, pemanfaatan beragam lensa, penggunaan drone dan Go Pro, gaya dan teknisnya hampir seragam, gaya dan teknis produksi itu dipelopori oleh kameraman TVRI Bali, Arif Budiman. Hampir semuanya, mengambil ide dan gaya pengambilan bahasa gambar yang pernah dan sering dilakukan oleh Arif Budiman.

Seiring dengan perkembangan teknologi yang memunculkan tren penggunaan kamera DSLR dalam pengambilan gambar produksi audio visual, terjadi fenomena perubahan dan perkembangan dalam teknis pengambilan gambar, kamera DSLR yang ringan, compact dan resolusi warna gambar yang lebih tajam dan alami, memunculkan keinginan-keinginan yang tak terbendung baik dalam angle, teknis pergerakan kamera, penggunaan lensa, apalagi munculnya teknologi drone dan kamera Go Pro.

Ada efek dramatisasi, angle serta ketajaman warna gambar, yang sebelumnya tidak pernah dikenal. Gaya pengambilan gambar Arif Budiman yang unik, menimbulkan perspektif baru, dalam proses pengaktualan teknis pengambilan gambar di TVRI khususnya TVRI daerah.

Pengaruh Arif Budiman dalam produksi karya terbaik bisa terjadi lantaran beberapa hal yang pertama bukan rahasia lagi terjadi saling intip dalam produksi Gatra Kencana terhadap para pemenang, yang kedua terdapat forum kameraman yang memungkin para kameraman TVRI saling berdiskusi, dan yang ketiga Arif Budiman pernah didatangkan di beberapa stasiun TVRI daerah untuk berbagi pengalaman dalam teknis produksinya, keempat yang tidak kalah penting Arif Budiman menguasai penggunaan kamera DSLR, drone dan Go Pro, dan yang terbaru adalah peralatan Ronin. Arif Budiman memang telah diakui dengan beberapa penghargaan sebagai kameraman terbaik non drama yang diraihnya.

Dalam perbincangan dengan penulis, Arif Budiman menyampaikan keinginannya untuk mendapatkan hattrick menjadi kameraman terbaik untuk Non Drama, keinginan itu saat ini sudah terwujud, 3 (tiga) kali sudah dirinya mendapatkan kameraman terbaik, 2014 untuk karyanya Barong Landung, 2015 untuk karyanya Tirta dan 2016 untuk karyanya Subak.

Bagi Penulis sosok Arif Budiman sudah lama menarik perhatian untuk tidak mengatakan “momok” bagi lawan, ketika masih berada di stasiun lain baik di Gorontalo, Kalimantan Selatan maupun Sulawesi Utara, kepada setiap kameraman, penulis selalu meminta agar shoot-shoot-nya TVRI Bali khususnya Arif Budiman dipelajari betul dan terus diwaspadai.

Fenomena Shoot Arif
Kini penulis bertugas bersama Arif, saatnya untuk mengamati dan belajar, selama puluhan menggeluti dunia produksi televisi, menurut hemat penulis, shoot Arif adalah shoot-shoot yang fenomenal. Sangat menarik mengamati konsep kreativitas Arif dalam tipe shoot, angle kamera, pergerakan kamera, komposisi gambar, kedalaman gambar, warna, dan pencahayaan.

Arif Budiman dalam mengambil gambar benar-benar mencari, memilih, dan memperhitungkan segala kemungkinan efek keindahan dan ruang seni yang diciptakannya. Arif tidak pernah mengambil gambar suka-suka, apalagi tanpa konsep yang jelas, pemahaman, penguasaan dan ketrampilan dalam penggunaan DSLR dengan segala asesorisnya sering menciptakan gambar diluar dugaan.

Arif tidak sekedar berpikir mengambil gambar-gambar indah sebanyak mungkin namun lebih mementingkan makna dan filosofi gambar. Bagi Arif sebuah shoot memiliki sejuta makna, shoot Arif mampu menghipnotis yang melihatnya.

Tiga kali menjadi kameraman terbaik membuktikan shoot-shootnya memang retoris, memikat dan tidak jarang puitis. Teknik pengambilan gambar selalu dari perspektif yang selektif dan tidak biasa, posisi kamera sering tidak terduga, unik dan menarik. Point of View obyek gambar dalam depth of field yang ekstrim, dengan latar belakang yang sangat blur, menggiring pada imajinasi yang memuat keindahan dan kewibawaan.

Arif selalu memposisikan kamera dengan kreatif, melihat obyek gambar dari sudut pandang yang berbeda, dari sudut pandang yang baru. Arif sangat setia dengan tripodnya memberikan sentuhan shoot-shoot klasik namun tidak jarang memegang kamera tanpa bantuan tripod dengan pengambilan gambar dari posisi yang sangat dinamis, kadang rendah dengan worm’s-eye view atau sudut pandang semut yang sedang melihat dunia, kadang tinggi dengan sudut pengambilan gambar seperti menginvestigasi suatu kejadian, pernah dalam posisi angle di sudut yang sangat sempit dan berbahaya.

Dengan ketrampilan menggunakan DSLR, Arif menempatkan kamera, yang jarang kameraman lain melakukannya dalam perspektif yang lebih kreatif.

Tidak Pelit Untuk Berbagi Ilmu
Arif selalu bisa menemukan cara di luar hal yang biasa, thinking out of the box, kreatifitas dimunculkan melalui keinginan dan mimpi besar dalam menggapai sesuatu, contoh saja mendapatkan hattrick untuk kameraman terbaik. Arif memang sangat bergairah dengan keinginan, impian dan target-target. Ini penulis ketahui dalam banyak kesempatan diskusi kecil di teras rumah, tidak dalam suasana formal di kantor misalnya, banyak sekali dimunculkan gagasan, bahkan setiap amatan, ide dan gagasan dicatat rapi agar disampaikan secara runtut.

Salah satu kiat Arif Budiman yang disampaikan kepada penulis dirinya akan selalu menunjukkan jiwa muda. Mengapa? Menurut Arif dalam diri anak muda selalu berpikir masa depan, sebaliknya mereka yang sudah tua selalu berpikir di masa lalu. Menurut Arif mereka yang berjiwa muda umumnya optimis dengan masa depan dan masih berpikiran terbuka terhadap perubahan. Dengan selalu berpikir perubahan maka dinamika terjaga, kreatifitas akan selalu muncul dan endurance stamina akan tetap prima. Jiwa muda yang akan selalu menuntun semangat berkreasi dalam pengambilan gambar.

Yang melekat kuat dalam ingatan penulis dalam perbincangan ringan dengan Arif adalah filosofi air dan sumur. Menurut Arif keterampilan yang dimilikinya bagaikan Air dalam Sumur. Air Sumur semakin di timba maka semakin jernih, kejernihan air tetap terjaga bahkan semakin berkualitas, membiarkan sumur tidak digunakan akan membuat airnya keruh.

Arif akan selalu membagi keterampilannya ke orang lain, selama orang itu mau bertanya dan belajar, dirinya tidak akan pelit apalagi menyembunyikan ilmunya, Arif akan membuat orang lain merasa nyaman menimba ketrampilan dari dirinya, dengan cara ini ilmu dirinya akan terus bertambah dan berkah. Dengan dibagikan kepada orang lain untuk kemudian dikembangkan, dirinya akan bisa belajar kembali dari orang yang sudah diberikan ketrampilan namun telah dikembangkan sesuai bakat, kreatifitas dan motivasinya, sehingga akan tumbuh persaingan, dengan sendirinya dirinya juga harus mengembangkan diri secara terus menerus, ada dinamika dalam pengembangan ketrampilan berbasis keikhlasan dan kreatifitas.

Proses transfer ketrampilan dilakukannya ketika diundang ke Gorontalo, Manado dan Sumatera Utara, ke Menado dan Sumatera utara diajak Risal Damis, kala itu masih Kabid Penunjang Program dan Berita, keinginan Risal Damis sesungguhnyalah juga yang menginpirasi tulisan ini. Dan kenyataannya dari tiga daerah itu telah muncul kameraman-kamerman muda berbakat, punya tekad dan mengangkat harkat stasiun masing-masing.

Mengkloning Tenaga Unggul
Penulis menyakini seyakin yakinnya keunggulan SDM adalah kata kunci yang akan membawa kecemerlangan TVRI. Dalam konteks inilah, penulis menyampaikan sebuah gagasan bagaimana menularkan tenaga unggul seperti Arif Budiman dalam profesi kameraman, dan sosok-sosok lainnya dalam profesi lainnya, baik di pusat maupun ke semua stasiun daerah untuk menggapai kejayaan kembali TVRI.

Di dalam tulisan penulis monitor edisi bertajuk Generasi Baru TVRI Meretas Menaklukan Gatra Kencana 2015, (Mampukah) Gatra Kencana Membangkitkan kembali Kejayaan TVRI, ada nama-nama seperti Mega Ismail (penulis/Sutradara terbaik), Lucky Arie (Editor terbaik), M. Arif Budiman, Ismail Xter dan Lucky Arie (Kameraman terbaik), Taufik Lahatie, Nurwahida (penata suara terbaik). Gunawan Wibisono (Pengarah Acara terbaik), Gede Surya Sudiatmika, Wigena (Editor terbaik). Penulis juga mengenal Agil Samal kameraman pemberitaan pusat. Penulis yakin masih banyak tenaga-tenaga handal lainnya, sosok-sosok terbaik inilah yang penulis anggap tenaga unggul.

Barisan tenaga unggul inilah yang penulis usulkan untuk dilakukan klonning, di-replikasi dan kemudian di-copy paste kepada segenap individu lainnya di seluruh stasiun daerah, bagaimana DNA para tenaga unggul ini bisa disistemasikan, dan kemudian di“paste”kan, dipindahkan dan ditularkan ke dalam tubuh SDM lainnya. Teknisnya adalah dengan jalan mengidentifikasi kreatifitas, inovasi dan perilaku kritikal yang menyebabkan seseorang menjadi pribadi unggul, dan kemudian memformulasikan sehingga dengan mudah bisa dipelajari dan ditiru oleh orang lain.

Jika yang kita identifikasi sebagai tenaga unggul adalah seorang kameraman seperti Arif Budiman, kita harus lihat perilaku kunci apa yang membuat Arif bisa menjadi seorang kameraman dengan angle yang out of the box. Kebiasaan dan pembelajaran apa yang dilakukan dalam mengembangkan dan memperkaya dalam pengambilan gambar, peralatan yang dibutuhkan dan rekayasa yang bisa dihasilkan dalam menghasilkan gambar yang diinginkan, dan beragam strategi dan gimmick lainnya yang membuat dia menjadi kameraman unggul. Teknis yang sama bisa dilakukan kepada para pekerja unggul lainnya untuk sutradara terbaik, penulis naskah terbaik, PD terbaik, audioman terbaik dan SDM terbaik-terbaik lainnya.

Proses berikutnya adalah mengemas berbagai kiat kedalam program intruksional yang bisa dipelajari dan ditiru SDM lain secara sistematis. Kemasan audio visual bisa berbentuk dalam serangkaian teknis-teknis instruksional jika untuk kameraman bisa dalam penggunaan lensa, go pro, drone, ronin dalam bentuk modul pembelajaran, ataupun juga dalam bentuk video yang secara nyata menggambarkan perilaku kunci para tenaga unggul dalam teknis bekerja mereka. Ketika sutradara, pengarah acara, penata suara, penata cahaya dan lain-lain, tentu saja dalam format masing-masing.

Tindakan selanjutnya adalah bagaimana memindahkan tenaga unggul itu kepada SDM lain supaya juga bisa menjadi tenaga unggul di stasiun/tempat masing-masing. Ada sejumlah cara yang bisa dilakukan. Yang paling efektif adalah melalui proses pelatihan, dimana tenaga unggul yang bersangkutan dihadirkan, diundang ke stasiun-stasiun yang membutuhkan. Dalam sesi-sesi pertemuan inilah, model perilaku yang sudah dibuat modul pembelajaran itu didiskusikan bersama, disimak, dan kemudian diterapkan secara sistematis serta berkelanjutan. Dengan cara inilah bisa dilakukan percepatan sekaligus pemerataan dalam kemampuan para pelaku produksi TVRI di semua stasiun penyiaran, dalam konteks stasiun daerah sebagai penyangga dan pilar TVRI pusat, hasilnya adalah bangunan LPP TVRI yang ditopang kokoh dengan produksi prima dari seluruh stasiun daerah. Kebhinekaan produksi akan mewarnai layar TVRI dengan kualitas yang merata dan prima. Jayalah selalu TVRI.

Sifak Masyudi – Kepsta TVRI Bali